Kamis, 15 November 2012

Percobaan V Asam Karboksilat dan Ester

Senin, 22 Oktober 2012

I. Tujuan
  1. Mengidentifikasi  senyawa asam karboksilat dan ester
  2. Mempelajari sifat fisik dan kelarutan dari senyawa tersebut
  3. Mempelajari cara pembuatan ester (esterifikasi)
II. Dasar Teori
Suatu asam karboksilat adalah suatu senyawa organik yang mengandung gugus karboksil, –COOH. Gugus karboksil mengandung gugus karbonil dan sebuah gugus hidroksil; antar aksi dari kedua gugus ini mengakibatkan suatu kereaktifan kimia yang unik dan untuk asam karboksilat (Fessenden, 1997). Adapun sifat-sifat yang dimiliki oleh asam karboksilat adalah:
1.                  Reaksi Pembentukan Garam
2.                  Reaksi Esterifikasi
3.                  Reaksi Oksidasi
4.                  Pembentukan Asam Karboksilat
Esterifikasi adalah salah satu jenis reaksi dimana reaksi tersebut untuk menghasilkan ester. Ester merupakan sebuah hidrokarbon  yang diturunkan dari asam karboksilat.
Sebuah asam karboksilat mengandung gugus -COOH,  dan pada sebuah ester hidrogen digugus ini digantikan oleh sebuah gugus hidrokarbon dari beberapa jenis. Ester dapat dihasilkan dengan cara mereaksikan antara sebuah alkohol dengan asam karboksilat. Hal-hal yang mempengaruhi esterifikasi adalah:
    a.   Suhu
                b.  Perbandingan zat pereaksi
                c.  Pencampuran
                d.  Katalis

III. Alat dan Bahan
A. Alat
                - Tabung reaksi                                 - Pipet tetes
                - Stirrer                                             - Termometer
                - Penangas air                                    - Pengaduk
                - Beaker glass                                   

B. Bahan
                - Asam salisilat                                  - Etanol
                - Aquades                                         - Asam asetat
                - NaOH                                            - H2SO4
                - HCl 3M                                          - Butanol

IV. Cara Kerja
1. Asam Karboksilat

2. Ester


V. Hasil Pengamatan
A.       Asam Karboksilat

No
Reaksi
Hasil Reaksi
1
0,5 g asam salisilat + 5 ml air
Terbentuk Kristal Putih
2
0,5 g asam salisilat + 5 ml air (dipanaskan)
Kristal tidak larut
3
0,5 g asam salisilat + 5 ml air (didinginkan)
Kristal tidak larut
4
0,5 g asam salisilat + 5 ml air + 50 tetes NaOH 3M
Kristal larut
5
0,5 g asam salisilat + 5 ml air + 50 tetes NaOH 3M + 50 tetes HCl
Kristal putih terbentuk kembali

        B.  Esterifikasi

No
Reaksi
Hasil Reaksi
1
3 ml etanol + 1 ml asam asetat + 15 tetes H2SO4 (dipanaskan)
Tidak berwarna, berbau khas seperti bau pisang
2
3 ml butanol + 1 ml asam asetat + 15 tetes H2SO4 (dipanaskan)
Berwarna, berbau khas seperti balon tiup
VI. Pembahasan

Percobaan yang pertama adalah identifikasi asam karboksilat yaitu asam salisilat (C6H7O3).
a.    C6H7O3+ H2O   ---------> tidak larut
asam salisilat merupakan asam karboksilat suku tinggi (C > 5) yang tidak dapat larut dalam air.
b.    Reaksi dengan basa kuat (NaOH)
asam karboksilat yang bereaksi dengan basa kuat membentuk garam yang dapat larut. (reaksi saponifikasi)
(maintenance)
c.    Pembentukan kembali asam karboksilat
HCl berfungsi untuk mengetahui banyaknya NaOH yang tersisa dalam proses saponifikasi. Disamping itu penambahan HCl juga untuk memberikan suasana asam, karena hasil mula-mula dari reaksi saponifikasi adalah berupa karboksilat, dengan adanya penambahan HCl ini karboksilat diubah menjadi asam karboksilat.
(maintenance)
Percobaan yang kedua adalah esterfikasi
a.       Membuat etil asetat
Etil asetat disintesis melalui reaksi esterifikasi fischer dari asam asetat dan etanol dan hasilnya beraroma pisang(perisa sintesis), biasanya dalam sintesis disertai katalis asam seperti asam sulfat.
CH3CH2OH   +    CH3COOH     →     CH3COOCH2CH3    +     H2O
Sifat Fisik dan Kimia :
·         Berbau khas seperti buah pisang (tidak beracun)
·         Tidak berwarna
·         Mudah menguap
·         BM : 88,12 g/mol
·         Densitas : 0,89 g/cm3
·         Titik didih : 77,10C
 Mekanisme reaksi :
(maintenance)
     
 Reaksi keseluruhan :
(maintenance)
     
b.      Membuat butil asetat
Asetat butil umumnya diproduksi oleh esterifikasi Fischer dari isomer butanol dan asam asetat dengan adanya katalis asam sulfat.
C4H9OH   +    CH3COOH     →     CH3COOC4H9    +     H2O
Sifat Fisik dan Kimia :
·         Berbau khas seperti balon tiup
·         berwarna
·         Mudah terbakar
·         BM : 116,16 g/mol
·         Densitas : 0,88 g/cm3
     
     VII. Kesimpulan
  1.      Asam salisilat merupakan asam karboksilat yang tidak larut dalam air
  2.      Ester dibuat dengan cara mereaksikan asam karboksilat dan alkohol dengan bantuan katalis
  3.      Ester memiliki aroma yang khas
VIII. Daftar Pustaka
              Fessenden. 1982. Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
              Riawan, S. 1990. Kimia Organik Edisi 1. Binarupa Aksara. Jakarta
          http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/sifat_senyawa organik/alkohol1/reaksi_pengesteran _esterifikasi/  
              http://www.scribd.com/doc/92786025/46/SIFAT-FISIKA-ASAM-KARBOKSILAT
        www.chemguide.co.uk

IX. Pertanyaan
1.    Tuliskan persamaan reaksi dari percobaan diatas!
Reaksi asam karboksilat :
C6H7O + NaOH →  C7H5NaO+ H2O
NaOH sisa + HCl   → NaCl + H2O + HCl sisa

Reaksi esterifikasi :
Membuat asetil asetat
CH3CH2OH   +    CH3COOH     →     CH3COOCH2CH3    +     H2O
Membuat butil asetat
C4H9OH   +    CH3COOH     →     CH3COOC4H9    +     H2O
2.    Mengapa HCl pekat dan NaOH pekat tidak dapat berperan sebagai katalis dalam reaksi esterifikasi!
Karena HCl dan NaOH tidak dapat mendonorkan 2 proton pada saat mekanisme esterifikasi yaitu proses protonasi.


Kamis, 18 Oktober 2012

Percobaan 2 Uji Kelarutan Senyawa Organik

Senin, 15 Oktober 2012

I. Tujuan
  1. Menentukan zat unknown berdasarkan identifikasi kelarutan senyawa organik
  2. Membedakan senyawa netral dengan senyawa inert
II. Dasar Teori
        Kata organik merupakan istilah yang digunakan pada awal perkembangan ilmu kimia yang ditandai dengan adanya pengelompokan senyawa-senyawa kimia menjadi dua golongan besar, yaitu senyawa organik dan senyawa anorganik.
        Senyawa organik yang merupakan satu golongan besar senyawa yang dikaji secara khusus dalam kimia organik, banyak manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu senyawa organik adalah hidrokarbon.
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Banyak di antara senyawaan organik, seperti protein, lemak, dan karbohidrat, merupakan komponen penting dalam biokimia.
        Di antara beberapa golongan senyawaan organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya; hidrokarbon aromatik, senyawaan yang mengandung paling tidak satu cincin benzena; senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom nonkarbon dalam struktur cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang.
        Pembeda antara kimia organik dan anorganik adalah ada/tidaknya ikatan karbon-hidrogen. Sehingga, asam karbonat termasuk anorganik, sedangkan asam format, asam lemak pertama, organik. Nama “organik” merujuk pada sejarahnya, pada abad ke-19, yang dipercaya bahwa senyawa organik hanya bisa dibuat/disintesis dalam tubuh organisme melalui vis vitalis – life-force.
         Hidrokarbon adalah senyawa organik yang hanya terdiri dari atom karbon dan atom hidrogen. Golongan senyawa ini amat penting peranannya dalam abad teknologi ini. Karena begitu banyak produk yang dapat diturunkannya. Dua sumber utama hidrokarbon adalah minyak bumi dan gas alam serta batu bara. Minyak bumi adalah campuran senyawa yang kompleks terutama dari hidrokarbon alifatik, hidrokarbon aromatik terutama diperoleh dari batubara. Dalam senyawa hidrokarbon juga terdapat gugus fungsi. Masing-masing gugus fungsi dapat mempengaruhi sifat fisika dan kimia senyawa hidrokarbon tersebut.


III. Alat dan Bahan
      1. Alat
          a. Tabung reaksi
          b. Rak tabung
          c. Pipet tetes
          d. Spatula
      2. Bahan
          a. NaOH 5%
          b. HCl 5%
          c. NaHCO3 5%
          d. H2SO4 Pekat
          e. Zat Unknown

IV. Prosedur Kerja

V. Pembahasan
          Pada praktikum kali ini akan membahas tentang uji kelarutan senyawa organik. Mula mula ada 2 tabung yang masing-masing berisi 1 ml aquades yang kemudian ditambahkan 2 tetes zat unknown. Penambahan zat unknown ini diamati, apakah semuanya larut dalam aquades atau tidak. Menurut hasil pengamatan, salah satu dari campuran tersebut mengalami homogenisasi atau larut. Ketika campuran tersebut diuji dengan menggunakan kertas lakmus, terlihat bahwa kertas lakmus yang berwarna merah kemudian berubah warna menjadi biru. Menurut referensi modul yang digunakan, hasil dari percobaan itu menunjukkan bahwa campuran tersebut adalah asam salisilat atau yang termasuk dalam gugus asam karboksilat. Dimana asam karboksilat adalah suatu senyawa organik yang mengandung gugus karboksil, –COOH. Gugus karboksil mengandung gugus karbonil dan sebuah gugus hidroksil; antar aksi dari kedua gugus ini mengakibatkan suatu kereaktifan kimia yang unik dan untuk asam karboksilat.
          
          Selanjutnya untuk analisa pada tabung yang kedua yang berisi campuran yang tidak larut, kemudian dilakukan penambahan larutan natrium hidroksida 5%. Setelah dikocok, terlihat bahwa campuran itu sulit untuk dihomogenkan. Dilanjutkan dengan penambahan larutan HCl 5% dan hasilnya juga sama yaitu tidak dapat larut. Penambahan asam sulfat pekat juga tidak berpengaruh pada kelarutan campuran tersebut. Menurut hasil analisa, sampel tersebut termasuk dalam senyawa aromatik, yang lebih spesifiknya adalah n-heksana. Seperti diketahui bahwa n-heksana adalah isomer utama heksana yang dalam keadaan standar merupakan cairan tak berwarna yang tidak larut dalam air. Hal ini terbukti pada saat penambahan aquades, senyawa ini tidak larut. 

VI. Kesimpulan
  • Menurut hasil analisa, 2 sampel yang di ujikan adalah asam salisilat dan n-heksana
  • Senyawa netral adalah senyawa yang tidak memiliki muatan sehingga senyawa tersebut mudah bereaksi dengan senyawa lain
  • Senyawa inert adalah senyawa yang sukar untuk melepas elektron sehingga sulit untuk bereaksi dengan senyawa lain

VII. Daftar Pustaka
http://annisanfushie.wordpress.com/2009/01/02/asam-karboksilat/
http://wanibesak.wordpress.com/2011/12/27/pengaruh-ikatan-hidrogen-terhadap-kelarutan-dalam-air-dan-titik-didih-suatu-zat/
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081008210238AACS6Xz

VIII. Pertanyaan
  1. Identifikasi zat unknown yang diberikan pada anda!
  2. Mengapa suatu senyawa dapat larut dalam air?
  3. Apakah yang dimaksud dengan senyawa inert? Beri contoh!
jawab :
  1. Zat unknown 1 : Larutan cair Ă  Ditambahkan H2O (terdapat 2 fase) Ă  ditambahkan NaOH 5% (tidak larut) Ă  ditambahkan HCl 5% (tidak larut) Ă  ditambahkan H2SO4 pekat (tidak larut) Ă  Senyawa inert (n-heksana) ; Zat unknown 2 : Serbuk Ă  Ditambahkan H2O (terbetuk endapan putih) Ă  ditambahkan NaOH 5% (terbentuk endapan putih) Ă  ditambahkan HCl 5% (terbentuk endapan putih) Ă  ditambahkan H2SO4 pekat (terbentuk endapan putih) Ă  Senyawa inert (Asam Salisilat)
  2. Suatu senyawa dapat larut dalam air karena senyawa tersebut mempunyai berat jenis yang lebih kecil daripada berat jenis air. Jenis senyawa yang dapat larut dalam air adalah biasanya jenis senyawa-senyawa ionik. Dan kelarutan senyawa ionik bergantung pada besarnya Ksp.
  3. senyawa inert adalah senyawa yang sukar untuk melepas elektron sehingga sulit untuk bereaksi. Misalnya adalah Pt dan Au.

Sabtu, 29 September 2012

Percobaan III Bioethanol dari Limbah Pepaya

Senin, 1 Oktober 2012

I. TUJUAN

    Untuk memperoleh ethanol dari fermentasi limbah buah-buahan

II. DASAR TEORI

     Buah pepaya yang sudah tidak layak jual bisa dimanfaatkan untuk bahan baku bioetanol. Buah-buahan yang mengandung kadar gula tinggi merupakan bahan yang potensial untuk bahan baku bioetanol. Buah yang dipakai bukan buah yang masih bagus dan segar, tetapi buah-buah yang sudah tidak layak jual atau hampir busuk. Daripada buah-buah ini dibuang tanpa harga, akan lebih baik jika diolah menjadi bioethanol.
     Kadar gula buah pepaya belum dianalisis di laboratorium, jadi belum tahu berapa kadar yang tepat. Buah pepaya yang sudah masak rasanya manis sekali. Perkiraan bisa sampai 10% kadar gulanya. Kadar yang cukup tinggi untuk dibuat ethanol. Hitung-hitungan teoritis di atas kertas. Andaikan seluruh gula di dalam pepaya bisa diubah menjadi etanol, maka etanol yang bisa diproduksi sekitar 5.1%. Satu ton buah afkir, teoritisnya, bisa menghasilkan 51 kg ethanol absolute. Realitasnya efisiensinya tidak pernah 100%. Mungkin hanya 85-90% yang bisa diambil. Demikian juga kadar etanolnya mungkin 60%, 80%, atau 95%. Meskipun begitu volumenya cukup besar, bisa sampai 48 liter dan nilainya bisa Rp 576.000 per ton buah afkir. Nilai ini akan bertambah besar jika limbah bioetanolnya diolah kembali menjadi pupuk organik cair (POC). (Source)

III. ALAT DAN BAHAN
a. Alat :
    1. Mesin parut untuk menghancurkan buah. Kalau mesin parut susah didapat, bisa juga pakai manual dengan cara ditumbuk.
    2. Drum atau bak untuk menampung bahan baku.
    3. Drum atau bak fermentasi
    4. Timbangan kecil. Bisa pakai timbangan kue.
    5. Ethanol meter. Kalau alat ini perlu dibeli di kota. Biasanya ada di toko-toko yang menjual alat-alat laboratorium.
    6. Distilator. Alat ini harus dipesan ke produsennya. Sesuaikan kapasitas distilator dengan kapasitas produksi ethanolnya.
    7. Peralatan pendukunh lainnya, seperti: ember, gayung, parang, dan lain-lain.
b. Bahan :
    1. Limbah buah, jelas ini adalah bahan baku utamanya.
    2. Ragi roti. Bisa pakai ragi roti yang banyak dijual di toko yang menjual bahan baku kue/roti.
    3. Urea dan NPK (15-15-15), untuk nutrisi tambahan ragi.



IV. CARA KERJA
     1. Buah dihancurkan terlebih dahulu dengan menngunakan parutan atau ditumbuk.
     2. Masukkan Urea & NPK ke dalam drum dan dicampur hingga merata.
     3. Encerkan yeast dengan air hangat-hangat kuku, diaduk sampai muncul buihnya.
     4. Masukkan ragi ke dalam sari buah dan diaduk sampai tercampir merata.
     5. Sari buah difermentasi minimal selama 72 jam atau 3 hari, sampai tidak muncul buihnya lagi.
     6. Sari buah diperas dan diambil airnya.
     7. Air perasan ini kemudian didistilasi untuk mendapatkan ethanol.
V. Hasil dan Pembahasan
     Hasil Pengamatan :
      Hasil Fermentasi      : 500 ml
      Yang didestilasi       : 100 ml
      Hasil destilasi          : 25 ml

      Pembahasan :
              Pada percobaan kali ini, membahas mengenai pembuatan etanol dari limbah buah pepaya yang difermentasikan . Cara yang digunakan untuk memfermentasikan buah pepaya ini tidak sulit, karena prosedurnya pun sama dengan cara memfermentasikan tape ketan, hanya saja dengan bahan yang berbeda. Dengan menggunakan 1 buah pepaya yang hampir busuk dan dengan campuran ragi roti (fermifan), urea dan NPK dengan beberapa taburan dengan metode kualitatif, dihasilkan air hasil fermentasi kurang lebih sekitar 500 ml. Lama waktu penyimpanan fermentasi dari limbah pepaya sekitar 3-4 hari. Kemudian setelah itu, air perasan tersebut diambil sebanyak 100 ml untuk proses destilasi tahap awal (percobaan). Dari 100 ml air fermentasi, diperoleh hasil destilat sebesar 25 ml. Perbandingan volume sebelum dan sesudah didestilasi adalah 4 : 1. Hal tersebut tidak terlalu buruk, karena adanya perbaikan alat yang semula hanya menghasilkan 5 ml dari 300 ml. Alat destilasi ini diperbaiki sedemikian rupa, sehingga alat ini bisa digunakan sebagaimana alat aslinya walau masih ada sedikit kekurangan.
               Destilat yang diperoleh adalah sebanyak 25 ml. Kemudian, hasil destilat tersebut diuji coba secara kualitatif dengan cara mencampurkan larutan H2SO4 pekat dengan K2Cr2O7 lalu dimasukan kedalam hasil destilat tersebut dengan perbandingan masing-masing 1 : 1 : 1. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya etanol didalam hasil destilat tersebut serta mengetahui jenis etanol apa yang terkandung didalamnya. Kemudian setelah dicampurkan terjadi reaksi kimia antara larutan-larutan tersebut. Sampel yang semula jernih kemudian berubah menjadi jingga lalu berubah kembali menjadi hijau. Hal ini menunjukan bahwa adanya reaksi positif. Reaksi positif ini ditandai dengan adanya perubahan warna pada larutan dari jingga (warna K2Cr2O7) menjadi hijau. Hal ini menyatakan bahwa etanol yang terkandung didalamnya adalah etanol primer atau sekunder. Selanjutnya adalah penetuan berat jenis etanol yang didapat, dihitung dengan menggunakan piknometer. Pada percobaan kali ini perhitungan metode berat jenis dapat menggunakan piknometer karena volume hasil destilat mencapai 25 ml. Sedangkan jika volume destilat yang diperoleh dibawah 25 ml, harus dihitung dengan menggunakan timbangan analitik dan jika volume destilat mencapai 40 ml maka bisa dihitung dengan menggunakan alkoholmeter.
Uji Kualitatif Kadar Etanol


VI. Kesimpulan
  1. Fermentasi dilakukan selama 3-4 hari
  2. Hasil fermentasi 500 ml, hasil destilat 25 ml dari 100 ml
  3. Uji kualitatif etanol menunjukan adanya kandungan etanol didalam hasil destilat (warna hijau)
VII. Daftar Pustaka
        http://www.scribd.com/doc/96592705/73503182-Uji-Kualitatif-Dan-Kuantitatif  " 18 okt 2012 20:49"
        http://isroi.com/2010/06/14/membuat-bioetanol-dari-limbah-buah-buahan/ "1 okt 2012 20:20"

Rabu, 26 September 2012

Percobaan II Metode Analisa Etanol

Senin, 24 September 2012

I. TUJUAN
    1. Menentukan berat jenis etanol dari etanol yang diperoleh
    2. Membandingkan berat jenis etanol asli dengan berat jenis etanol yang diperoleh

II. DASAR TEORI

        Alkohol merupakan istilah umum dari etanol mempunyai efek yang menguntungkan dan merugikan bagi manusia. Etanol pada kadar rendah dan sedang berperan sebagai stimulan. Konsumsi etanol dalam jumlah sedang mempunyai efek protektif terhadap penyakit jantung iskemik. Konsumsi etanolyang berlebihan bisa menyebabkan kerusakan banyak organ, terutama otak dan hati (Anonim, 1999). Menurut keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1516/A/SK/V/81, pasal 1: “Anggur, arak dan sejenisnya termasuk dalam jenis minuman keras dan harus memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk minuman keras”. Minuman keras menurut menteri Kesehatan RI nomor 86/Menkes/Per/IV/77 adalah “semua jenis minuman beralkohol tetapi bukan obat, meliputi minuman keras golongan A, minuman keras golongan B, dan minuman keras golongan C”. Minuman anggur termasuk dalam minuman keras golongan B (kadar etanol 5 – 20 %v/v). Minuman anggur dibuat dari fermentasi buah anggur atau jus buah anggur dengan Saccharomyces ellipsoideus. Buah-buah anggur itu dipanen ketika kandungan substrat yang bisa difermentasi, yaitu “gula anggur” atau glukosa berada pada kadar yang tinggi. Material yang disiapkan dari buah anggur sebelum fermentasi disebut must. Prosesnya tidak lain menghancurkan buah yang sudah matang dan menunggu hingga etanol yang dihasilkan sudah cukup dan tidak  beracun (Bowman dan Rand, 1980). Etanol yang nama lainnya alkohol, aethanolum, etil alcohol, adalah cairan yang bening, tidak berwarna, mudah mengalir, mudah menguap, mudah terbakar, higroskopik dengan karakteristik bau spiritus dan rasa membakar, mudah terbakar dengan api biru tanpa asap. Campur dengan air, kloroform, eter, gliserol,dan hampir semua pelarut organik lainnya. Penyimpanan pada suhu 8-15°C, jauh dari api dalam wadah kedap udara dan dilindungi dari cahaya, serta mempunyai rumus struktur sebagai berikut :

Etanol
        Metode yang dapat digunakan untuk menetapkan kadar etanol antara lain metode berat jenis yang merupakan metode konvensional dan kromatografi gas yang merupakan metode instrumental. Masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, dilakukan perbandingan validitas kedua metode, apakah validitas kedua metode berbeda bermakna atau tidak. Kromatografi gas adalah teknik kromatografi yang bisa digunakan untuk memisahkan senyawa organik yang mudah menguap. Senyawa-senyawa yang dapat ditetapkan dengan kromatografi gas sangat banyak, namun ada batasan-batasannya. Senyawa-senyawa tersebut harus mudah menguap dan stabil pada temperatur pengujian, utamanya dari 50 – 300°C. Jika senyawa tidak mudah menguap atau tidak stabil pada temperatur pengujian, maka senyawa tersebut bisa diderivatisasi agar dapat dianalisis dengan kromatografi gas. Berat jenis untuk penggunaan praktis lebih sering didefinisikan sebagai perbandingan massa dari suatu zat terhadap massa sejumlah volume air yang sama pada suhu 4° atau temperatur lain yang tertentu. Notasi berikut sering ditemukan dalam pembacaan berat jenis: 25°/25°, 25°/4°, dan 4°/4°. Angka yang pertama menunjukkan temperatur udara saat zat ditimbang, angka yang berikutnya menunjukkan temperatur air yang digunakan (Martin dkk., 1983). Berat jenis larutan etanol dapat diukur dengan piknometer. Berat jenis larutan etanol semakin kecil, maka kadar etanol di dalam larutan tersebut semakin besar. Hal ini dikarenakan etanol mempunyai berat jenis lebih kecil daripada air sehingga semakin kecil berat jenis larutan berarti jumlah / kadar etanol semakin banyak. Konversi berat jenis menjadi kadar etanol (v/v) disajikan pada tabel I di bawah ini:

        Validasi suatu metode analisis adalah proses yang dibuat, oleh studi laboratorium, sehingga karakteristik pelaksanaan metode memenuhi persyaratan aplikasi analisis yang diinginkan. Parameter-parameter validitas metode analisis antara lain akurasi, presisi, linearitas, spesifisitas, range, detection limit, dan quantitation limit (Anonim, 2005). (Source)

III. ALAT DAN BAHAN
      Alat :
           1. Labu Ukur
           2. Piknometer
           3. Gelas Ukur

           4. Pipet

           5. Alumunium Foil
           6. Neraca Analitik
      Bahan :
           1. Aquadest
           2. Etanol 50%
           3. Aseton

IV. CARA KERJA
      1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
      2. Dibuat larutan ethanol dengan konsentrasi 50%
      3. Ditimbang piknometer kosong dan catat beratnya
      4. Ditimbang piknometer + aquades dan catat beratnya
      5. Ditimbang piknometer + ethanol 50% dan catat beratnya

V. HASIL PENGAMATAN

No
 Nama bahan
  Jumlah
1.
Air fermentasi
300  ml
2.
Volume destilat
Massa destilat
     5 ml
3,46 gram
3
Aquadest
100  ml
4.
Piknometer  kosong
20,3 gram
5.
Piknometer+ Air
24,25 gram
6.
Piknometer +Destilat
43,31 gram


VI. PERHITUNGAN
1. Penentuan kadar ethanol
Data yang dihasilkan dalam percobaan ini yaitu, dari 300 mL air tapai yang didestilasi menghasilkan 20 mL alkohol.Kadar alkohol yang dihasilkan dari air tape ketan adalah
% Kadar Alkohol    = Massa destilat/ Volume destilat x 100 %

                                =  3,46 gram/ 5 ml x 100 %
                                = 69,2 %
Jadi, Alkohol yang di hasilkan 69,2 %

2. Pembuatan alkohol % v/v  50 %
Di ketahui: V1 = Volume Aquades
                 N1 = 50 %
                 N2 = 96 %
Di tanya : V2?
Jawab :

V1.N1 = V2. N2
        V2 = V1. N1/ N2
        V2 = 100. 50 / 96
        V2  = 52 ml

3. Penentuan bobot jenis ethanol
Di ketahui:    Bobot piknometer kosong (W1)                       =   20,36    gram
                    Bobot piknometer + air suling  (W2 )                =   44,61   gram
                    Bobot piknometer yang berisi destilat (W3)      =    43,31    gram
Di tanya :      Bobot jenis (p)?
Jawab ;
VII. PEMBAHASAN
     Pada praktikum ini adalah penentuan berat jenis pada ethanol,dimana Berat jenis suatu zat (ethanol) adalah perbandingan antara bobot zat dibanding dengan  volume zat pada suhu tertentu (biasanya pada suhu 25ÂșC),  Berat jenis didefenisikan sebagai perbandingan kerapatan suatu zat terhadap kerapatan air. Berat jenis adalah perbandingan relatif antara massa jenis sebuah zat dengan massa jenis air murni. Air murni bermassa jenis 1 g/cm³ atau 1000 kg/m³.
      Pada percobaan penentuan bobot jenis ini dilakukan dengan menggunakan piknometer. Sampel yang digunakan adalah ethanol.Pertama,penimbangan piknometer kosong (W1) yang sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol kemudian dikeringkan menggunakan alat pengering yaitu hair dryer. Tujuan pembersihan piknometer tersebut adalah agar zat-zat pengotor yang ada didalam piknometer dapat dihilangkan karena akan mempengaruhi bobot dari piknometer. Pencucian piknometer tidak menggunakan aseton karena penggunaan alkohol saja sudah dianggap mampu membersihkan piknometer dengan baik tujuan pengeringan agar piknometer terbebas dari alkohol sisa pencucian sebelumnya.  Bobot piknometer kosong  yaitu 20,36 gram.Setelah piknometer kosong yang kering telah ditimbang bobotnya, piknometer tersebut diisi dengan air suling sampai tanda batas 25 mL. Bobot piknometer yang berisi air suling (W2) yaitu 44,61 gram,dan bobot piknometer yang berisi destilat (ethanol) yaitu 43,31 gram.Pada pengisiannya dengan sampel, harus diperhatikan baik-baik agar di dalam alat tidak terdapat gelembung udara, sebab akan mengurangi bobot sampel yang akan diperoleh.Setelah itu ditentukan bobot  jenisnya dengan menggunakan rumus:
                                                       (Bobot jenis) P = W3 -W1/ W2 -W1

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi bobot jenis suatu zat adalah :
  • Temperatur, dimana pada suhu yang tinggi senyawa yang diukur berat jenisnya dapat menguap sehingga dapat mempengaruhi bobot jenisnya, demikian pula halnya pada suhu yang sangat rendah dapat menyebabkan senyawa membeku sehingga sulit untuk menghitung bobot jenisnya.
  • Massa zat, jika zat mempunyai massa yang besar maka kemungkinan bobot  jenisnya juga menjadi lebih besar.
  • Volume zat, jika volume zat besar maka bobot jenisnya akan berpengaruh tergantung pula dari massa zat itu sendiri, dimana ukuran partikel dari zat, bobot molekulnya serta kekentalan dari suatu zat dapat mempengaruhi bobot jenisnya.
  • Kekentalan/viskositas sutau zat dapat juga mempengaruhi berat jenisnya.
         Dimana bobot jenis yang diperoleh berdasarkan perhitungan adalah  0,946 ppm pada volume ethanol  50 % dan Hal ini tidak sesuai dengan Tabel Daftar Bobot Jenis dan Kadar Etanol pada volume etanol  50 % seharusnya sebesar 0,9335 ppm.Perbedaan hasil ini kemungkinan disebabkan oleh :
  • Pengaruh suhu dari pemegang alat, juga berpengaruh pada alat
  • Cairan yang digunakan sudah tidak murni lagi sehingga mempengaruhi bobot jenisnya
  • Kesalahan-kesalahan praktikan seperti tidak sengaja memegang piknometer.


VIII. KESIMPULAN
         Bahan yang ditetapkan kadarnya adalah etanol yang terkandung dalam sampel atau penetapan kadaetanol pada sampel ditentukan melalui perhitungan bobot jenis. Berdasarkan hasil perhitungan, sampel memiliki  0,946 gr/ml dengan kadar ethanol  0,016 % yang di buat 50 %.

IX. DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/87198402/uji-kadar-etanol