Rabu, 26 September 2012

Percobaan II Metode Analisa Etanol

Senin, 24 September 2012

I. TUJUAN
    1. Menentukan berat jenis etanol dari etanol yang diperoleh
    2. Membandingkan berat jenis etanol asli dengan berat jenis etanol yang diperoleh

II. DASAR TEORI

        Alkohol merupakan istilah umum dari etanol mempunyai efek yang menguntungkan dan merugikan bagi manusia. Etanol pada kadar rendah dan sedang berperan sebagai stimulan. Konsumsi etanol dalam jumlah sedang mempunyai efek protektif terhadap penyakit jantung iskemik. Konsumsi etanolyang berlebihan bisa menyebabkan kerusakan banyak organ, terutama otak dan hati (Anonim, 1999). Menurut keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1516/A/SK/V/81, pasal 1: “Anggur, arak dan sejenisnya termasuk dalam jenis minuman keras dan harus memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk minuman keras”. Minuman keras menurut menteri Kesehatan RI nomor 86/Menkes/Per/IV/77 adalah “semua jenis minuman beralkohol tetapi bukan obat, meliputi minuman keras golongan A, minuman keras golongan B, dan minuman keras golongan C”. Minuman anggur termasuk dalam minuman keras golongan B (kadar etanol 5 – 20 %v/v). Minuman anggur dibuat dari fermentasi buah anggur atau jus buah anggur dengan Saccharomyces ellipsoideus. Buah-buah anggur itu dipanen ketika kandungan substrat yang bisa difermentasi, yaitu “gula anggur” atau glukosa berada pada kadar yang tinggi. Material yang disiapkan dari buah anggur sebelum fermentasi disebut must. Prosesnya tidak lain menghancurkan buah yang sudah matang dan menunggu hingga etanol yang dihasilkan sudah cukup dan tidak  beracun (Bowman dan Rand, 1980). Etanol yang nama lainnya alkohol, aethanolum, etil alcohol, adalah cairan yang bening, tidak berwarna, mudah mengalir, mudah menguap, mudah terbakar, higroskopik dengan karakteristik bau spiritus dan rasa membakar, mudah terbakar dengan api biru tanpa asap. Campur dengan air, kloroform, eter, gliserol,dan hampir semua pelarut organik lainnya. Penyimpanan pada suhu 8-15°C, jauh dari api dalam wadah kedap udara dan dilindungi dari cahaya, serta mempunyai rumus struktur sebagai berikut :

Etanol
        Metode yang dapat digunakan untuk menetapkan kadar etanol antara lain metode berat jenis yang merupakan metode konvensional dan kromatografi gas yang merupakan metode instrumental. Masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, dilakukan perbandingan validitas kedua metode, apakah validitas kedua metode berbeda bermakna atau tidak. Kromatografi gas adalah teknik kromatografi yang bisa digunakan untuk memisahkan senyawa organik yang mudah menguap. Senyawa-senyawa yang dapat ditetapkan dengan kromatografi gas sangat banyak, namun ada batasan-batasannya. Senyawa-senyawa tersebut harus mudah menguap dan stabil pada temperatur pengujian, utamanya dari 50 – 300°C. Jika senyawa tidak mudah menguap atau tidak stabil pada temperatur pengujian, maka senyawa tersebut bisa diderivatisasi agar dapat dianalisis dengan kromatografi gas. Berat jenis untuk penggunaan praktis lebih sering didefinisikan sebagai perbandingan massa dari suatu zat terhadap massa sejumlah volume air yang sama pada suhu 4° atau temperatur lain yang tertentu. Notasi berikut sering ditemukan dalam pembacaan berat jenis: 25°/25°, 25°/4°, dan 4°/4°. Angka yang pertama menunjukkan temperatur udara saat zat ditimbang, angka yang berikutnya menunjukkan temperatur air yang digunakan (Martin dkk., 1983). Berat jenis larutan etanol dapat diukur dengan piknometer. Berat jenis larutan etanol semakin kecil, maka kadar etanol di dalam larutan tersebut semakin besar. Hal ini dikarenakan etanol mempunyai berat jenis lebih kecil daripada air sehingga semakin kecil berat jenis larutan berarti jumlah / kadar etanol semakin banyak. Konversi berat jenis menjadi kadar etanol (v/v) disajikan pada tabel I di bawah ini:

        Validasi suatu metode analisis adalah proses yang dibuat, oleh studi laboratorium, sehingga karakteristik pelaksanaan metode memenuhi persyaratan aplikasi analisis yang diinginkan. Parameter-parameter validitas metode analisis antara lain akurasi, presisi, linearitas, spesifisitas, range, detection limit, dan quantitation limit (Anonim, 2005). (Source)

III. ALAT DAN BAHAN
      Alat :
           1. Labu Ukur
           2. Piknometer
           3. Gelas Ukur

           4. Pipet

           5. Alumunium Foil
           6. Neraca Analitik
      Bahan :
           1. Aquadest
           2. Etanol 50%
           3. Aseton

IV. CARA KERJA
      1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
      2. Dibuat larutan ethanol dengan konsentrasi 50%
      3. Ditimbang piknometer kosong dan catat beratnya
      4. Ditimbang piknometer + aquades dan catat beratnya
      5. Ditimbang piknometer + ethanol 50% dan catat beratnya

V. HASIL PENGAMATAN

No
 Nama bahan
  Jumlah
1.
Air fermentasi
300  ml
2.
Volume destilat
Massa destilat
     5 ml
3,46 gram
3
Aquadest
100  ml
4.
Piknometer  kosong
20,3 gram
5.
Piknometer+ Air
24,25 gram
6.
Piknometer +Destilat
43,31 gram


VI. PERHITUNGAN
1. Penentuan kadar ethanol
Data yang dihasilkan dalam percobaan ini yaitu, dari 300 mL air tapai yang didestilasi menghasilkan 20 mL alkohol.Kadar alkohol yang dihasilkan dari air tape ketan adalah
% Kadar Alkohol    = Massa destilat/ Volume destilat x 100 %

                                =  3,46 gram/ 5 ml x 100 %
                                = 69,2 %
Jadi, Alkohol yang di hasilkan 69,2 %

2. Pembuatan alkohol % v/v  50 %
Di ketahui: V1 = Volume Aquades
                 N1 = 50 %
                 N2 = 96 %
Di tanya : V2?
Jawab :

V1.N1 = V2. N2
        V2 = V1. N1/ N2
        V2 = 100. 50 / 96
        V2  = 52 ml

3. Penentuan bobot jenis ethanol
Di ketahui:    Bobot piknometer kosong (W1)                       =   20,36    gram
                    Bobot piknometer + air suling  (W2 )                =   44,61   gram
                    Bobot piknometer yang berisi destilat (W3)      =    43,31    gram
Di tanya :      Bobot jenis (p)?
Jawab ;
VII. PEMBAHASAN
     Pada praktikum ini adalah penentuan berat jenis pada ethanol,dimana Berat jenis suatu zat (ethanol) adalah perbandingan antara bobot zat dibanding dengan  volume zat pada suhu tertentu (biasanya pada suhu 25ºC),  Berat jenis didefenisikan sebagai perbandingan kerapatan suatu zat terhadap kerapatan air. Berat jenis adalah perbandingan relatif antara massa jenis sebuah zat dengan massa jenis air murni. Air murni bermassa jenis 1 g/cm³ atau 1000 kg/m³.
      Pada percobaan penentuan bobot jenis ini dilakukan dengan menggunakan piknometer. Sampel yang digunakan adalah ethanol.Pertama,penimbangan piknometer kosong (W1) yang sebelumnya telah dibersihkan dengan alkohol kemudian dikeringkan menggunakan alat pengering yaitu hair dryer. Tujuan pembersihan piknometer tersebut adalah agar zat-zat pengotor yang ada didalam piknometer dapat dihilangkan karena akan mempengaruhi bobot dari piknometer. Pencucian piknometer tidak menggunakan aseton karena penggunaan alkohol saja sudah dianggap mampu membersihkan piknometer dengan baik tujuan pengeringan agar piknometer terbebas dari alkohol sisa pencucian sebelumnya.  Bobot piknometer kosong  yaitu 20,36 gram.Setelah piknometer kosong yang kering telah ditimbang bobotnya, piknometer tersebut diisi dengan air suling sampai tanda batas 25 mL. Bobot piknometer yang berisi air suling (W2) yaitu 44,61 gram,dan bobot piknometer yang berisi destilat (ethanol) yaitu 43,31 gram.Pada pengisiannya dengan sampel, harus diperhatikan baik-baik agar di dalam alat tidak terdapat gelembung udara, sebab akan mengurangi bobot sampel yang akan diperoleh.Setelah itu ditentukan bobot  jenisnya dengan menggunakan rumus:
                                                       (Bobot jenis) P = W3 -W1/ W2 -W1

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi bobot jenis suatu zat adalah :
  • Temperatur, dimana pada suhu yang tinggi senyawa yang diukur berat jenisnya dapat menguap sehingga dapat mempengaruhi bobot jenisnya, demikian pula halnya pada suhu yang sangat rendah dapat menyebabkan senyawa membeku sehingga sulit untuk menghitung bobot jenisnya.
  • Massa zat, jika zat mempunyai massa yang besar maka kemungkinan bobot  jenisnya juga menjadi lebih besar.
  • Volume zat, jika volume zat besar maka bobot jenisnya akan berpengaruh tergantung pula dari massa zat itu sendiri, dimana ukuran partikel dari zat, bobot molekulnya serta kekentalan dari suatu zat dapat mempengaruhi bobot jenisnya.
  • Kekentalan/viskositas sutau zat dapat juga mempengaruhi berat jenisnya.
         Dimana bobot jenis yang diperoleh berdasarkan perhitungan adalah  0,946 ppm pada volume ethanol  50 % dan Hal ini tidak sesuai dengan Tabel Daftar Bobot Jenis dan Kadar Etanol pada volume etanol  50 % seharusnya sebesar 0,9335 ppm.Perbedaan hasil ini kemungkinan disebabkan oleh :
  • Pengaruh suhu dari pemegang alat, juga berpengaruh pada alat
  • Cairan yang digunakan sudah tidak murni lagi sehingga mempengaruhi bobot jenisnya
  • Kesalahan-kesalahan praktikan seperti tidak sengaja memegang piknometer.


VIII. KESIMPULAN
         Bahan yang ditetapkan kadarnya adalah etanol yang terkandung dalam sampel atau penetapan kadaetanol pada sampel ditentukan melalui perhitungan bobot jenis. Berdasarkan hasil perhitungan, sampel memiliki  0,946 gr/ml dengan kadar ethanol  0,016 % yang di buat 50 %.

IX. DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/87198402/uji-kadar-etanol

Tidak ada komentar:

Posting Komentar